Takaran Normal


Marilah kita selalu berhati-hati dalam setiap perilaku dan tindakkan kita. Sebagai umat Islam tentunya kita tahu apa perintah dan larangan, apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak. Tapi perlu diperhatikan, ada baiknya kita berhati-hati dengan yang diperbolehkan. Tidak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu. Dari takaran itulah, keseimbangan bisa tercipta. Termasuk keseimbangan dalam diri kita.

Kalau keseimbangan goyah, yang muncul adalah kerusakkan. Dalam diri kita, ada tiga keseimbangan yang harus terjaga, yaitu keseimbangan akal, rohani, dan fisik. Satu saja keseimbangan terganggu, maka seluruh fisik akan mengalami kerusakkan.

Keseimbangan tidak hanya tentang kekurangan. Berlebih-lebihan juga bisa memunculkan ketidakseimbangan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis. Pemenuhan kebutuhan fisik misalnya makan dan minum. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum walaupun halal, tapi bisa memunculkan penyakit.

Masih banyakk hal lainnya yang harus sesuai dengan takaran, misalnya santai. Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus karena itu bermakna istirahat. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru. Tapi, ketika santai tidak lagi proporsional maka yang muncul adalah hura-hura dan kemalasan. Saat itu, santai tidak hanya menggusur jenuh, tapi juga kewajiban-kewajiban.

Intinya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik meskipun hal yang kita kerjakan itu adalah baik.

“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

0 komentar: