Hari Ini Aku Pulang
Hari ini aku pulang. Tepat dihari terakhir pada bulan Desember, benar-benar disaat-saat penghujung tahun. Hampir seperti biasanya, setiap pulang aku sering ditemani oleh hujan. Pagi ini aku menunggunya reda, karena aku harus membelikan Ibuku sesuatu sebelum aku pulang. Semoga sempat, pikirku dalam hati. Aku ingin sebangunnya aku dari tidur malam ini, aku sudah berada di rumah, di kamarku yang sudah aku tinggalkan hampir tiga bulan.
Hujan reda saat dzuhur. Selepas sholat dzuhur saat itu juga aku lekas pergi untuk membelikan Ibuku sesuatu. Setelah aku menapaki tiap sudut tempat perbelanjaan, akhirnya aku menemukan apa yang ingin ku beli.
Di tengah gemericik air hujan, aku berangkat ke terminal. Wah, sepertinya bus terkahir. Tepat waktu, aku pun langsung masuk dan duduk di kursi belakang merapat ke jendela. Sepertinya tepat di atas roda bus. Hujan kembali mengguyur di sepanjang jalan. Sudah sore, aku akan tiba malam hari di rumah.
Sore yang terasa sangat lama dibanding biasanya. Di sore hari yang sangat basah dan dingin ini jalanan padat. Lebih dari satu jam terjebak di tengah padatnya jalanan. Semakin malam saja aku akan tiba di rumah. Sepanjang perjalanan aku menatapi jendela yang basah. Melihat tetes hujan di kaca jendela yang mengalir membentuk garis seperti beradu cepat menuju bawah. Sesekali aku mengusap jendela yang berembun dan melihat air yang terhempas ke atas di terjang roda bus ketika melewati genangan.
Hari mulai malam, lampu-lampu rumah dan jalanan sudah dinyalakan pemiliknya. Merenung dan menyelami kedalaman hidupku sendiri di tengah hujan malam di pinggir jendela benar-benar tempat dan waktu yang tepat. Mendadak aku menjadi visioner. Hatiku menggebu-gebu. Aku berpikir kenapa perasaan ini hanya terjadi satu waktu saja seperti pada saat-saat seperti ini. Aku mau merasakannya setiap saat.
Sudah semakin malam saja. Di bus tinggal beberapa orang penumpang. Bus tiba-tiba berhenti, “Sabar ya dek,” kata salah seorang kernet. “Kenapa pak kok berhenti?” tanyaku. Tetapi dia berlalu begitu saja tanpa menjawab. Mungkin dia tidak mendengar ucapanku. Tapi sepertinya ada seseorang yang mereka tunggu. Yang terus saja aku pikirkan, ayahku sudah menungguku di persimpangan jalan untuk menjemputku di cuaca yang dingin dengan hujan rintik disaat dia sedang kurang sehat. “Ayo cepatlah,” teriak ku dalam hati yang jelas tidak mungkin didengar oleh kernet dan sopir itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya bus itu jalan juga. “Berhenti di mini market sebelum persimpangan ya pak,” ucapku ke salah seorang kernet yang sedang merebah disalah satu kursi penumpang yang kosong.
Ayahku sudah menunggu dan melambaikan tangannya memanggilku. Aku tiba juga walaupun agak sedikit larut. Sesampai di rumah, aku langsung dihidangkan makan malam oleh Ibuku, “Makan dik, selagi hangat,” katanya. Akhirnya, sebangunnya aku dari tidur malam ini, besok aku sudah berada di rumah, di kamarku yang sudah aku tinggalkan hampir tiga bulan. Aku Pulang.









0 komentar: