Jumat Penuh Hikmah


Jumat pekan ini, aku masih saja melakukan hal biasa seperti hari-hari biasaku yang lain. Kali ini Aku menunggu Adzan Jumat di depan televisi butut temanku. Menyiakan waktu luang yang entah harus diapakan. Hari ini sangat cerah, di pagi hari sudah disuguhi oleh mentari yang sangat menghangatkan saat ku buka tirai jendela meskipun kini sedang musim penghujan. Kuliah sudah libur, teman-temanku sudah pulang ke pelukan Ibu dan Ayahnya. Tapi, aku masih saja di rumah singgah alias kontrakan yang terbilang cukup luas dan senyap karena aku sendirian. Sebenarnya masih ada satu teman lagi, kakak tingkatku. Tapi dia masih bermanja-manja dengan kasur di kamarnya. Ah sudahlah, abaikan saja.

Aku masih saja bingung, masih saja menghabiskan waktu di depan televisi dan bercengkrama dengan handphone ku. Kadang menonton televisi, kadang sms, kadang menggaruk akun sosial yang minta digaruk. Akhirnya bosan juga. Masih tersisa waktu 3 jam lebih untuk pergi ke masjid. Kuputuskan untuk merapikan lemari kamar yang sudah seperti peti mati usang berjamur.

Awalnya ingin merapikan lemari saja, alhasil seluruh sudut kamar menjadi kinclong. Perkara tinta printer rusak yang menetes dari atas lemari hingga mengucur ke penjuru lantai kamar karena ku pindahkan. Kesal, tapi ah sudahlah bersihkan saja seluruh kamar. Sapu, pel, lap, sabun, air, dan kanebo jadi senjata tempur ku. Misi kali ini pemusnahan masal. Harap maklum, mendramatisir sesuatu yang biasa itu kadang cukup menyenangkan. Akhirnya misi selesai tepat waktu.

Waktunya membersihkan diri untuk bersiap pergi ke Masjid melaksanakan ibadah sholat jumat. Sebuah kewajiban bagi umat muslim yang laki-laki. Mendengarkan kutbah dari khotib menjadi keutamaan. Dan dilarang bersuara kecuali khotib, karena akan sia-sia apa yang kita kerjakan bila kita berbicara meskipun hendak mengingatkan.

Aku pergi ke Masjid dengan berjalan kaki. Menapaki jalan yang masih berbatu, menyebrangi jembatan, menuruni tangga, dan menaiki tangga. Ini di Bandar Lampung, kawan. Ada suatu hal unik yang aku lihat ketika aku berada di Masjid. Ku lihat ada seorang laki-laki alias bapak-bapak bersama dua anak laki-laki, ya seorang ayah dan anak lelakinya yang masih kecil. Mataku tertuju pada mereka. Serasa nostalgia melihat ayah dan anak itu. Mungkin karena keinginanku untuk jumpa dengan kedua orang tua ku yang sudah lama tak ku temui.

Mataku masih tertuju pada mereka. Aku melihat ada kotak infaq yang berjalan semakin berat dan terus bertambah berat karena semakin berisi, bersahutan dari tangan ke tangan dan hendak melintasi keberadaan mereka. Aku melihat anak-anak itu dengan semangat berebut memasukkan uang ke dalam kotak infaq itu.

Suasana itu sungguh tidak asing bagiku, aku seperti melihat diriku yang dulu. Ayahku dulu juga mengajarkan hal yang sama. Sebelum berangkat ke Masjid bersama, Ayah memberiku uang. “Masukkan ke dalam kotak infaq ya nanti,” katanya. Begitulah cara Ayah mengajarkanku untuk bersedekah. Kadang, dulu juga aku disuruhnya mengantarkan sedekah ke orang lain. Dan kali ini aku diingatkan kembali akan hal itu. Sampai sekarang pun masih sama. Ayah masih terus mengajarkanku akan sedekah. Ketika aku pulang Ayah kadang menyindirku, “Kamu sering sedekah enggak di sana” ledeknya. Biasanya Aku menjawab dengan senyum dan tertawa rendah merasa malu.

0 komentar: